Senin, 06 Desember 2010

PROPOSAL RANCANGAN EVALUASI
PROGRAM PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN
KELAS/SUDUT BACA
Tempat :
MADRASAH TSANAWIYAH Al-MUNAWWAROH CILEGON
Jl. H. Leman Pintu Air Gerem Raya Kota Cilegon.Prof.Banten
Tlp: (0254) 572173
A. VlSI
MTs. Al-Munawwaroh menjadi sekolah yang unggul dalam prestasi, dan bertanggung jawab, pelopor dalam IPTEK dan IMTAQ, teladan dalam bersikap dan bertindak .
B. MISI
1. Menciptakan lingkungan sekolah yg aman, educated, ramah, sejuk, damai dan menyenangkan
2. Mengimplementasikan PAIKEM (pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
3. Melengkapi sarana prasarana yang memadai untuk pembelajaran inquiry dan contectual
4. Menciptakan budaya disiplin, hidup bersih toleransi antar warga sekolah
5. Pembiasaan perilaku sosial, tanggung jawab, jujur dan kasih sayang antar sesama warga sekolah
6. Memanfaatkan Teknologi Informasi dalam sistem pembelajaran
7. Menerapkan sistem pembelajaran berbasis keunggulan;keunggulan
8. Menanamkan pola hidup dalam persaingan global.















PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Membaca merupakan jantung pengetahuan, oleh karena itu kebiasaan membaca
hendaknya ditumbuhkan sejak dini. Kegemaran akan membaca membawa pengaruh yang luar biasa pada perkembangan pengetahuan siswa dalam mengikuti pembelajarandi sekolah.
Sekolah sebagai suatu lembaga formal memiliki peran yang strategis untuk menumbuhkan kebiasaan membaca tersebut. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan perpustakaan sekolah atau sudut baca di dalam
kelas. Beberapa sekolah telah melakukan pengaturan agar siswa dapat menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
A. Fokus evaluasi
Evaluasi pelaksanaan Program pemberdayaan perpustakaan kelas/ sudut baca di Mts Al-Munawwaroh Cilegon dengan menggunakan model CIPP (Context, input, process, product)
B. Alasan dilaksanakannya Evaluasi
Program pemberdayaan perpustakaan kelas/sudut baca adalah program yang dilaksanakan sekolah untuk peningkatan minat baca anak, sehingga perlu dilihat efektifitasnya sejauhmana keberhasilan program pemberdayaan perpustakaan kelas untuk siswa.
Dan pengamatan dan penjajakan yang dilakukan sendiri oleh evaluator selama program berlangsung, terlihat ada beberapa indikasi permasalahan seperti masih kurangnya buku bacaan yang harus disediakan. Maka perlu dievaluasi.
C. Tujuan Kegiatan
Tujuan umum:
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengumpulkan informasi yang terkait dengan keterlaksanaan program pemberdayaan perpustakaan kelas untuk siswa.
Tujuan Khusus:
Mengetahui tingkat minat baca siswa dalam pemanfaatan buku yang telah disediakan disudut kelas.
Mengetahui sejauh mana keberhasilan program, metoda yang dipakai dalam menjalankan.
D. Pertanyaan Evaluasi
1. Apakah perilaku/aktivitas siswa-siswi berubah akibat dan program yang dijalankan?
2. Apakah semua siswa puas dengan apa yang mereka dapatkan dari program tersebut?
3. Seberapa baik program merespon kebutuhan?
4. Seberapa efisien sumber daya yang digunakan dalam mencapai tujuan dan program?
5. Apakah program yang dijalankan sudah tepat?
6. Siapa sebenarnya yang menjalankan program dan metoda apa yang digunakannya. siswa, masyarakat dan lingkungan (baik sekolah atau luar sekolah)?
E. Metodologi yang Digunakan
 Jenis Program
Program pemberdayaan perpustakaan untuk siswa ini dapat digolongkan kedalam program pemprosesan, dimana program ini kegiatan pokoknya adalah mengubah bahan mentah (input) menjadi bahan jadi sebagai hasil dan proses atau keluaran (output). Melalui program ini siswa yang belum memanfaatkan/membaca buku khususnya buku pelajaran dan laiannya,, setelah mengikuti program menjadi dapat menguasai dengan lancer dengan program tersebut. Program dikatakan sukses apabila siswa telah bisa menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan buku sesuai dengan tujuan program.
 Model Evaluasi yang Digunakan
Model yang digunakan dalam evaluasi ini adalah model CIPP (context, input,process, product).
1. Context
 Meliputi penggambaran latar belakang program yang dievaluasi, memberikan perkiraan kebutuhan dan tujuan program, menentukan sasaran program, dan menentukan sejauhmana tawaran ini cukup responsif terhadap kebutuhan yang sudah diidentifikasi (Sarah McCann). Periilaian konteks dilakukan untuk menjawab pertanyaan “Apakah tujuan yang ingin dicapai, yang telah dirumuskan dalam program benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat?”
2. Input
 Meliputi kegiatan pendeskripsian masukan dan sumberdaya program, membandingkan program yang akan dilakukan dengan program lain, perkiraan untung/rugi, dan melihat alternatif prosedur dan strategi apa yang perlu disarankan dan dipertimbangkan (Guba & Stufflebeam, 1970). Singkatnya, in put merupakan model yang digunakan untuk menentukan bagaimana cara agar penggunaan sumberdaya yang ada bisa mencapai tujuan serta secara esensiaf memberikan informasi tentang apakah perlu mencari bantuan dan pihak lain atau tidak. Aspek input juga membantu menentukan prosedur dan desain untuk mengimplementasikan program.
3. Process
 Melihat pada kegagalan-kegagalan selama implementasi, bertindak untuk memperbaiki kualitas proses dan program yang berjalan, serta memberikan informasi sebagai alat untuk menilai apakah sebuah proyek relatif sukses/gagal.
4. Product
 Meliputi penentuan dan penilaian dampak umum dan khusus suatu program, mengukur dampak yang terantisipasi, mengidentifikasi dampak yang tak terantisipasi, memperkirakan kebaikan program, serta mengukur efektivitas program. Singkatnya, evaluasi produk didesain untuk mengukur dan menginterpretasikan pencapaian.
Responden atau Sumber Data
1. Person
Sumber data yang digunakan dalam kegiatan evaluasi program pemberdayaan perpustakaan kelas/sudut baca ini adalah peserta/siswa sebagai orang yang merasakan langsung hasil dari program.
2. Place
MADRASAH TSANAWIYAH Al-MUNAWWAROH
Jl. H. Leman Pintu Air Gerem Raya Kota Cilegon Sebagai objek diam : Tempat Pemberdayaan Program perustakaan kelas di Lembaga Pendidikan
Quantum Pustaka
Sebagai objek bergerak: Kegiatan praktek menggunakan bahan pustaka.
3. Paper
Dokumentasi selama kegiatan berlangsung. Diktat, foto, dan lain-lain.
 Metode Pengumpulan Data
1. Untuk sumber data person .(orang) digunakan teknik wawancara dan angket.
2. Untuk sumber data place (tempat), digunakan teknik observasi atau pengamatan olehevaluator.
3. Untuk sumber data paper dengan melihat atau mengumpulkan dokumentasi.
 Instrumen atau Alat Pengumpul Data
1. Untuk sumber data person (orang) digunakan pedoman wawancara dan angket.
2. Untuk sumber data place (tempat), digunakan lembar observasi.
3. Untuk sumber data paper digunakan dokumen-dokumen yang ada.
4. Prosedur Kerja dan Langkah-Langkah Kegiatan
Agar dalam melaksanakan evaluasi program nantinya lebih terarah dan sistematis maka dibuat langkah kerja atau plan of operation seperti tabel di bawah ini.

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan Petugas evaluator

2 Penyiapan instrument
3 AnalisisPengolahanData

4 Penyusunan danPenyerahanLaporan

Model evaluasi CIPP
adalah model evaluasi yang tujuannya untuk mengambil keputusan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengembangkan suatu program. Model evaluasi CIPP terdiri atas empat jenis evaluasi, yaitu:
A. Context Evaluation (Evaluasi Konteks) Digunakan untuk menganalisis problem yang dihadapi dan kebutuhan dalam altar pendidikan tertentu agar ketimpangan yang terjadi dapat dihilangkan.
B. Input Evaluation (Evaluasi Masukan) Digunakan untuk menilai strategi dan sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai obyektif program guna membantu mengambil keputusan dalam memilih strategi dan sumber terbaik dalam keterbatasan.
C. Process Evaluation (Evaluasi Proses)
 Digunakan untuk memonitor dan mengontrol proses pelaksanaan program.
 Melakukan koreksi dan penyesuaian jika terjadi penyimpangan.
 Process Evaluation sama seperti Formative valuation.
D. Product Evaluation (Evaluasi Produk)
 Digunakan untuk mengukur kuantitas dan kualitas hasil pelaksanaan program yang hasilnya dibandingkan dengan obyektif dan program.
 Hasil dan evaluasi digunakan untuk mengambil keputusan apakah program diteruskan, dihentikan atau diubah.
 Product Evaluation juga digunakan untuk merencanakan program berikutnya. Product Evaluation sama seperti Summative Evaluation.
Seperti layaknya suatu pendekatan dalam ilmu social, CIPP memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.
1. Keunggulan model CIPP:
 CIPP memiliki pendekatan yang holistik dalam evaluasi, bertujuan memberikan gambaran yang sangat detail dan luas terhadap suatu proyek, mulai dan konteksnya hingga saat proses implementasi.
 CIPP memiliki potensi untuk bergerak di wilayah evaluasiformative dan summative. Sehingga sama baiknya dalam membantu melakukan perbaikan selama program berjalan, maupun memberikan informasi final.
2. Kelemahan model CIPP:
 Terlalu mementingkan bagaimana proses seharusnya daripada kenyataan di lapangan
 Kesannya terlalu top down dengan sifat manajerial dalam pendekatannya
 Cenderung fokus pada rational management ketimbang mengakui kompleksitas realitas empiris.
(sumber http://fuddin.wordpress.com/2007/07/1 7/evaluasi-program/ http://74.125.1 53.132/search?q=cache:JsJsGXVLTG4J:elisa.ugm.ac.id/files/PSantosojs ipol/YoK3G4xS/Evaluation%2 52 Ofor%2 520 Learning.ppt+model+evaluasi+cipp&cd=5 &h1id&ct=cInk&g1=id&c1ient=flrefox-a)




HASIL EVALUASI
SITUASI SEBELUM INISIATIF
Kondisi perpustakaan yang di sekolah umumnya sangat memprihatinkan, tidak
hanya pada keadaan fisik ruang perpustakaan semata tetapi juga pada koleksi
buku yang tersedia, pengelolaan, dan pemanfaatannya. Umumnya ruang
perpustakaan ditempatkan di ruang yang sempit, kotor dan tidak ada perawatan
yang memadai atau bahkan sekolah tidak mempunyai perpustakaan sama sekali.
Sebelum adanya inisiatif sekolah tidak memiliki ruang perpustakaan sama sekali.
Buku pelajaran hanya disimpan dalam lemari di kelas. Pemanfaatan buku sangat
jarang dilakukan oleh guru. Biasanya buku yang tersedia hanya buku paket yang
digunakan hanya pada matapelajaran tertentu saja. Kalau pun ada variasi lain dari
jenis buku yang tersedia, maka hal tersebut sangat sedikit baik dari sisi jumlah
maupun jenisnya.
Pengelolaan Kelas Untuk Menunjang PAKEM
INISIATIF DAN STRATEGI PELAKSANAAN
Maksud dan Tujuan
Dengan melihat kondisi faktual yang ada di sekolah, beberapa kepala sekolah
berinisiatif untuk melakukan perubahan. Berbagai strategi dipikirkan agar maksud
tersebut dapat dilaksanakan dengan tujuan:
 Pengadaan ruang perpustakaan atau sudut baca di dalam kelas
 Penambahan koleksi buku melalui pembelian oleh sekolah maupun mengadakansumbangan dari komite, pihak swasta maupun orang tua siswa
 Pemanfaatan semaksimal mungkin buku bacaan oleh siswa dan guru
 Peningkatan pengelolaan yang tertib atau pengorganisasian perpustakaan
Pola Pikir dan Pelaksanaan
Berdasarkan maksud dan tujuan di atas, maka sekolah memikirkan serangkaian
langkah strategis yang dapat digunakan. Adapun langkah-langkah yang diambil
antara lain adalah:
 Kepala Sekolah melakukan sosialisasi ide dalam pertemuan antara warga sekolah dengan wali murid.
 Kepala sekolah meminta guru untuk mempersiapkan tempat yang dapat digunakansebagai sudut baca dalam kelas berupa meja yang diletakkan di sudut kelas dan menata buku yang berada dalam lemari di sudut baca tersebut. Hal ini dilakukan agar buku bacaan semakin didekatkan pada siswa sehingga mereka dapat dengan mudah memanfaatkannya.
 Kepala Sekolah mengambil kebijakan membeli buku untuk menambah koleksi yang sudah ada dan menghimbau kepada wali murid pada saat sosialisasi untuk turut serta menyumbangkan buku ke sekolah.
Buku-buku bacaan yang didekatkan ke siswa dalam bentuk sudut baca di kelas
 Kepala Sekolah bersama guru dan wali murid bersepakat meluncurkan suatuprogram pembiasaan membaca bagi siswa yaitu membaca senyap yang dilakukan setiap hari, 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
 Kepala Sekolah bersama komite dan orang tua siswa menyepakati bagaimanameningkatkan perpustakaan sekolah dan sudut baca di kelas.
PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN DAN SUDUT BACA DI SEKOLAH


Murid
memanfaatkan
perpustakaan
dalam waktu istirahat








HASIL YANG DICAPAI
Melalui berbagai inovasi yang dilakukan kepala sekolah bersama stakeholder
dalam pemberdayaan perpustakaan/sudut baca maka hasil yang dicapai sebagai
berikut:
 Minat baca siswa meningkat, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya permintaansiswa pada sekolah untuk menambah koleksi buku bacaan
 Semakin banyaknya sumber belajar yang dapat digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran
 Adanya rasa sungkan dari siswa kalau waktu istirahat hanya dipakai untuk bermain, sedangkan teman lainnya mengambil buku dan serius membaca
 Banyak ide dan kreatifitas siswa yang diperoleh dari buku yang mereka baca
PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL
Keberhasilan yang telah dicapai dalam pemberdayaan perpustakaan/sudut baca
di beberapa sekolah dapat memberikan inspirasi bahwa:
 Walau dengan menggunakan biaya yang minim dapat memberikan hasil yang optimal
 Inisiatif kepala sekolah untuk memanfaatkan ruang kelas dan koridor sebagai ruang baca
 Pemberdayaan guru untuk mengelola dan memanfaatkan perpustakaan/sudutbaca
KEMUNGKINAN KEBERLANJUTAN
Dengan memperhatikan hasil yang
positif dari program pemberdayaan
perpustakaan/sudut baca, maka kemungkinan
keberlanjutan program ini sangat besar.
Penyusunan program yang diinisiasi oleh
kepala sekolah dengan melibatkan guru
dan stakeholder, memungkinkan program
pemberdayaan ini dimodifikasi ke arah
yang lebih baik.


KEMUNGKINAN PENYEBARLUASAN
Berdasarkan kemudahan langkah-langkah yang diambil dan banyaknya manfaat
yang didapatkan untuk meningkatkan kualitas siswa melalui kebiasaan membaca,
maka kemungkinan penyebarluasan pemberdayaan perpustakaan/sudut baca ini
untuk dilakukan di kabupaten/kota lainnya sangat besar.

(Sumber : Modul Kursus tertulis Bina Pustaka Jakarta 2009/2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar